Selasa, 12 Maret 2019

Masalah Kemiskinan dan Kesenjangan Pendapatan di Indonesia


Kemiskinan dan Kesenjangan Pendapatan di Indonesia

Sebagian besar negara sedang berkembang seperti Indonesia  dihadapkan kepada  masalah kemiskinan. Masalah kemiskinan muncul karena ada sekelompok masyarakat yang secara struktural tidak mempunyai peluang dan kemampuan yang memadai untuk mencapai tingkat kehidupan yang layak. Masalah kemiskinan ternyata bukanlah masalah sepele, kemiskinan merupakan masalah yang sangat kompleks serta pemecahannya tidaklah mudah. Dibutuhkan kesadaran upaya baik pemerintah maupun masyarakat itu sendiri. Dalam tahap selanjutanya kemiskinan akan memunculkan masalah baru ,yaitu kesenjangan distribusi pendapatan. Distribusi kesenjangan pendapatan merupkakan suatu kondisi di dalam masyrakat, dimana dalam masyarakat tsb terdapat masyarakat dengan penghasilan tinggi dan kelompok masyrakat dengan penghasilan rendah. Masyarakat yanga memiliki penghasilan tinggi mampu memenuhi  kebutuhan  hidupnya baik itu primer,sekunder maupun tersier.Sementara itu kelompok masyarakat yang memiliki penghasilan rendah tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya meskipun kebutuhan yang paling dasar.

Pengertian kemiskinan
Ada pendapat yang mengatakan bahwa kemiskinan terkait dengan sikap ,budaya ,hidup, dan lingkungan dalam suatu masyarakat. Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa kemiskinan merupakan ketidakberdayaan sekelompok masyarakat  terhadap system yang di terapkan oleh suatu pemerintahsn sehingga mereka berada pada posisi yang sangat lemah dan tereksploitasi sehingga di sebut kemiskinan structural. Ada pendapat yang menyatakan seseorang termasuk dalam kategori miskin apaila tidak mampu memenuhi standar miimum kebutuhan pokok untuk dapat hidup secara layak.
Menurut Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (bappenas) definisi kemiskinan yaitu kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang,laki-laki dan perempuan, tidak mampu memnuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat.Hak-hak dasar anatara lai , terpenuhinya kehidupan pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan, sumber daya alam dan lingkunga hidup, rasa amandari perlakuan atau ancamantindak kekerasan dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan social-politik,baik bagiperempuan maupun laki-laki.
Pada dasarnya bentuk Kemiskinan dapat dikelompokan menjadi tiga, yaitu sebagai berikut.
1.       Kemiskinan struktural
Yaitu kemiskinan yang dialami  oleh suatu golongan atau individu karena struktur social masyarakat tidak memungkinkan suatu golongan atau individu menggunakan sumber-sumber pendapatan yang sebenarnya tersedia untuk mereka. Indikator untuk menentukan kemiskinan structural ini antara lain pendapatan perkapita, keadaan gizi, kecukupan pangan, dan perumahan.
2.       Kemiskinan absolut
Yaitu kemiskinan yang diukur denagn kebutuhan minimum dalam memenuhi hidup dan individu tersebut berada di bawah garis kemiskinan yang telah di tentukan.
3.       Kemiskinan relatif
Yaitu kemiskinan yang terkait dengan distribusi pendapatan . bila distribusi pendapatan semakin timpang, kemiskinan relatif ini akan semakin besar.


Perkembangan kemiskinan di Indonesia
Badan Pusat Statistik (BPS) sejak tahun 2003 melakukan survey social ekonomi nasional (susenas) setiap tahun, sehingga dapat diketahui jumlah penduduk miskin di Indonesia. Jumlah dan persentase penduduk miskin di Indonesia cenderung menurun selama periode 1998-2011. Pada tahun 1998, persentase  penduduk miskin tercatat  sebanyak 24,23 persen(49,5 juta orang). Tingginya angka kemiskinan tersebut disebabkan  krisis ekonomi di Indonesia pada pertengahan tahun 1997 yang berakibat pada melonjaknya harga-harga kebutuhan dan berdampak parah pada penduduk miskin. Sejalan dengan harga-harga kebutuhan yang kembali menurun , angka kemiskinan juga menurun. Selama periode 1999-2002, jumlah penduduk miskin menurun sebanyak 9,57 juta orang dari 47,97 juta orang (23,43persen dari total penduduk) menjadi 38,4 juta orang (18,2 persen dari total penduduk). Angka kemiskinan terus menurun dan mencapai 35,1 juta orang (15,97 persen dari total penduduk) pada tahun 2005. Sebagai akibat dari pemerintah menaikan harga minyak pada tahun2005 yang berdampak pada meningkatnya harga-harga kebutuhan dasar, kemiskinan tercatat meningkat menjadi 17,75 persen (39,3 juta orang) pada tahun 2006, atau meningkat sebanyak 4,2 juta orang di banding tahun 2005.
Meskipun demikian selama periode 2007-2018, angka kemiskinan kembali turun. Pada tahun 2007, penduduk miskin tercatat sebanyak 37,17 juta orang (16,58). Beberapa program pemerintah yang ditujukan bagi penduduk miskin dijalankan pemiritah sejak tahun 2005 berdampak positif bagi penurunan angka kemiskinan. Pada tahun 2011, persentase penduduk miskin tercatat menurun menjadi 12,49 persen (30,02 juta orang). Bahkan pada Maret 2018 kemarin BPS mencata Indoseia mengalami titik terendah dalam hal persentase kemiskinan sejak tahun 1999, yakni sebesar 9,82 perse( 25,95 juta orang).

Faktor penyebab kemiskinan di Indonesia
Pada umumnya di negara Indonesia kemiskinan terjadi di akibatkan oleh berbagai hal sebagai berikut :
a)       Laju pertumbuhan penduduk
Pesatnya pertumbuhan penduduk di Indonesia semakin terpuruk  dengan keadaan ekonomi yang belum mapan, Jumlah penduduk yang bekerja tidak sebandig degan jumlah beban ketergantungan. Penghasilan yang minim di tambah dengan banyaknya beban ketergantugan yang harus di tanggung membuat penduduk hidup di bawah garis kemiskinan.
b)      Pengangguran dan lapangan pekerjaan
Tingkat pengangguran di negara sedang berkembang seperti Indonesia  pada umumya sangat tinggi. Tingginya tingkat pengangguran di sebabkan karena laju pertumbuhan angkatan kerja lebuh tinggi daripada laju pertumbuhan kesempatan kerja. Rendahnya pertumbuhan kesempatan kerja berhubungan erat dengan rendahnya tingkat penananman modal khususya di sektor industri dan jasa modern sehinggaa timbulah masalah kemiskinan.
c)       Tingkat pendidikan yang rendah
Rendahnya kualitas penduduk juga merupakan juga merupakan salah satu penyebab kemiskinan di Indonesia. Ini disebabakan Karena rendahnya tingkat pendidikan dan tingkat pengetahuan tenaga kerja . untuk adanya perkembangan ekonomi terutama industri , jelas sekali di hutuhkan tenaga kerja yang mempunyai skill.
d)      Kurang sigapnya pemerintah
Pemerintah kurang peka dalam menghadapi angka kemiskinan. Pemerintah kurang berfokus pada  program pencegahan timbulnya angka kemiskinan Berbagai  program yang di laksanakan  berupaya untuk mengatasi kemiskian bukannya untuk mencegah terjadinya kemiskinan.

Dampak kemiskinan
a)       Pendidikan
Tingginya jumlah anak-anak yang  putus sekolah, hal tersebut di karenakan  mereka tidak mampu menjangkau biaya sekolah atau pendidikan. Mereka lebih memilih untuk pergu bekerja dalam upaya memenuhi kebutuhan dasarnya.
b)      Meningkatnya angka kriminalitas
Timbulnya berbagai tindakan seperti : perampokan, pencurian, begal,dsb. Hal tsb di lakukan dalam upaya memenuhi kebutuhananya.
c)       Bunuh diri
Banyak orang melakukan hal tersebuat karena merasa bahwa hidup yang mereka jalani tidak adil .
d)      Timbul perasaan minder (rendah diri)
Mereka yang berkehidupan miskin akan merasa minder untuk berteman dengan seseorang.
e)       Munculnya pengamen, pengemis, dan anak jalanan.


Mengatasi kemiskinan di Indonesia
Pemerintah selalu berusaha untuk mengurangi angka kemiskinan dengan cara melakukan program-program pengentasan kemiskinan. program yang dilaksanakan pemerintah untuk mengatasi kemiskinan antara lain:
a)       BLT (bantuan tunai Langsung).
Upaya ini bertujuan memberikan keringanan bagi mayarakat miskin. Namun upaya ini harus lebih di koreksi dan di sempurnakan pelaksanaannya supaya tepat sasaran.
b)      BOS (Bantuan Operasional Sekolah).
Bantuan ini termasuk dalam upaya meningkatkan akses pelayanan dasar di bidang pendidikan. Pendidikan dapat meningkatkan derajat hidup seseorang. Pemberian bantuan keringanan biaya pendidikan dapat mengurangi tingginya angka kemiskinan.
c)       Subsidi beras untuk masyarakat miskin
Upaya bertujuan memberikan keringanan dalam memenuhi kebutuhan pokok.
d)      Program keluarga harapan (PKH) dsb.
e)       Jamkesmas ( Jaminan Kesehatan Masyarakat).
Dalam bidangkesehata upaya mengurangi angka kemiskinan yaitu dengan memerika keringaan biaya pengobatan masyarakat miskin.
f)       Memberikan pelatihan kewirausahaan bagi masyarakat.
Hal ini dapat mendorong masyarakat untuk menciptakan sebuah  lapangan perkerjaan, sehingga dapat memperluas lapangan perkejaan.
g)       Memperluas lapangan perkerjaan
Pemberian bantuan dari pemerintah pada pengusaha kecil sangat diperlukan  untuk mengembangkan usaha mereka. Program seperti umkm (Usaha Mikro Kecil Menengah)  dapat mempermudah para pengusaha untuk menciptakan lapangan pekerjaan sehingga akan menyerap banyak tenaga kerja. Kemudian mengadakan kerja sama dengan  negara lain untuk menanamkan modal asing, memberi fasilitas kepada investor seperti: pengurangan pajak, kepastian hukum dan mempermudah izin usaha dsb, dapat ,memperluas lapangan pekerjaan .Hal itu tentu dapat mengurangi angka kemiskinan.

Pengertian kesenjangan penghasilan
Kesenjangan atau ketimpangan pendapatan adalah kondisi yanng distribusi pendapatan yang diterima masyarakat  tidak merata.

Permasalahan kesenjangan pendapatan di Indonesia
Di Indonesia, pada awal pemerintahan orde baru para pembat kebijakan dan perencana pembangunan ekonomi percaya bahwa  proses pembangunan ekonomi akan menghasilkan apa yang di maksud dengan trickle down effect. Di dasarkan pada pemikiran tsb, pada awal periode orde baru hingga akhir decade 1970-an strategi pembangunan ekonomi yang di anut oleh pemeribtahan soeharto lebih berfokus pada bagaimanan mencapai suatu laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi dalam suatu periode yang singkat. Unruk mencapai tujua tersebut, pusat pembangunan ekonomi nasional di mulai dari pulau jawa,khususnya di jawa barat.dengan alasan bahwa semua fasilitas-fasilitas yang di butuhkan seperti: peabuhan, jalan raya , kereta api, telekomunikasi dan kompleks industri lebih tersedia. Pembangunan pada saat itu juga hanya terpusat di sector-sektor tertentu secara yang secara potensial memiliki kemampuan besar untuk menghasilkan niai tambah yang tinggi. Mereka percaya bahwa nantinya hasil pembangunan itu akan menetes ke sector sektir dan wilayah Indonesia lainnya.
Stelah 10 tahun berlalu sejak Pelita 1 yang di mulai pada tahun 1969, ternyata efek yang di maksud itu mungkin tidak tepat. Sebagai akibat dari strategi tersebut, pada decade 1980-an hingga pertengahan decade 1990-an, sebelum krisis ekonomi, Indonesia memang menikmati laju pertumbuhan ekonomi atau produk domestic bruto (PDB) yang relative tinggi, tetapi tingkat kesenjangan juga semakin besar dan jumlah orang miskin tetap banyak.
Menjelang tahun 1970-an sebernarnya pemerintah sudah mulai menyadari keadaan tersebut yang menunjukan buruknya kualitas pembangunan yang telah di lakukan. Oleh karena itu, sejak Pelita III strategi pembangunan mulai diubah. Sasaran utama pembangunan bukan lagi hanya pertumbuhan , tetapi juga kesejahteraan masyarakat. Di samping itu , konsentrasi pembangunan juga tidak hanya untuk meningkatkan kesejahteraanmasyarakat, misalnya dengan mengembangkanindustri-industri yang padat karya dan sektor pertanian. Hingga menjelang krisis nilai tukar rupiah pada pertengaha tahun 1997 lalu, sudah cukup banyak program-program yang di lakukan oleh pemerintah yang bertujuan untuk mengurangi jumlah kemiskinan dan perbedaan pendapatan Antara kelompok miskin dan kelompok kaya  di Indonesia, seperti inpres desa tertinggal (IDT), pengembangan industry kecil dan rumah tangga, khususnya di daerah pedesaan, transmigrasi dsb. Sayangnya, krisi nilai tukar rupiah muncul dan berubah menjadi suatu krisis ekonomi yang paling kompleks yang pernah di alami Indonesia. Krisis ini yang akhirnya menciptakan suatu resesi ekonomi yang besar dengan sendirinya memperbesar tingkat kemiskinan dan gap dlam distribusi pendapatan di taah air, bahkan menjadi jauh lebih parah di bandingkan pada decade 1980-an.

Solusi kesenjangan penghasilan
Penurunan kesenjangan pendapatan menjadi keinginan pemerintah, karena ketimpangan pendapatan yang terlalu besar berpotensi memunculkan kecemburuan yang bisa mengarah pada konflik sosial. Ditilik dari sumbernya, ketimpangan pendapatan bisa berasal pada 3 hal yaitu:

1.       Kesenjangan antar individu
A.    Untuk mengurangi kesenjangan kemampuan individu, pemerintah memperbanyak pendidikan vokasi. Cara ini bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar mereka mendapatkan keahlian. Melalui kemampuannya upah yang lebih baik akan didapat. Alhasil gap pendapatan diperkecil.
B.    Memperbesar alokasi anggaran untuk kesejahteraan kaum miskin dan mengurangi subsidi BBM, juga cara mengurangi kesenjangan. Melalui bantuan kesejahteraan ini masyarakat kurang mampu mendapatkan jaminan dasar pendidikan, kesehatan, dan pangan. Sehingga penghasilan yang mereka tidak dihabiskan untuk membiayai kebutuhan dasar dan sebaliknya dapat  dialokasikan untuk keperluan lain. Sementara melalui penghapusan subsidi BBM, pemerintah mengalihkan  uang tersebut untuk kesejahteraan rakyat miskin.
C.  Pemerintah juga membuka akses perbankan yang dikenal dengan financial inclusion untuk masyarakat yang selama ini tidak pernah bersentuhan dengan lembaga keuangan. Melalui cara ini, masyarakat bisa mendapatkan pinjaman dari bank untuk mengembangkan usahanya.
D.    Kredit Usaha Rakyat, juga ditawarkan dengan bunga hanya 9 persen per tahun. Dengan bunga rendah masyarakat diharapkan agar usaha mikro, khususnya bisa menjangkau akses kredit. Kredit Usaha Rakyat (KUR) merupakan program  dalam Kelompok Program Penanggulangan Kemiskinan Berbasis Pemberdayaan Usaha Ekonomi Mikro dan Kecil (klaster 3).Klaster ini bertujuan untuk meningkatkan akses permodalan dan sumber daya lainnya bagi usaha mikro dan kecil.
.
2.       kesenjangan antar daerah
A.      Proyek-proyek infrastruktur yang tengah dilakukan pemerintah secara besar-besaran juga  bertujuan untuk menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Dampaknya adalah terjadi redistribusi pendapatan, termasuk pembangunan di daerah perbatasan, pinggiran, dan pulau-pulau terpencil. Melalui cara ini kesenjangan pendapatan antar daerah dan antar wilayah bisa diperkecil.
B.      Pemerintah melalui Kementerian Keuangan telah menyalurkan Dana Desa kepada 312 daerah kabupaten/kota di 33 provinsi di seluruh Indonesia. Daerah yang telah menerima penyaluran Dana Desa tahap I ini merupakan kabupaten/kota yang telah menyampaikan persyaratan penyaluran Dana Desa secara lengkap. Berdasarkan publikasi yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) pada Kamis (12/5), total dana yang telah disalurkan mencapai Rp20,29 triliun, atau sekitar 71,98 persen dari total alokasi Dana Desa tahap I. Dana desa yang disalurkan langsung untuk memperbaiki fasilitas dasar di desa akan membuat kegiatan pembangunan yang memanfaatkan tenaga lokal berjalan. Ini tentu akan meningkatkan pendapatan warga desa, yang pada gilirannya akan memperkecil kesenjangan pendapatan kaya-miskin.
3.       Kesenjangan antar sektor
Tak kalah pentingnya adalah mengurangi ketimpangan antar sektor, dimana pemerintah fokus pada sektor pertanian, perumahan, kesehatan, dan usaha kecil. Sektor-sektor ini menyerap tenaga kerja dalam jumlah banyak. Dengan demikian makin banyak orang memperoleh pendapatan,  sehingga ketimpangan pendapatan berkurang lantaran pembangunan tidak terpaku pada satu sektor saja



Daftar pusaka



Tidak ada komentar:

Posting Komentar